Zindypink’s Weblog











Es Krim …………

SETIAP orang pasti suka dengan es krim. Tidak hanya anak–anak, remaja bahkan orang tua pun sangat suka dengan es krim.

Es krim tak hanya ada di outlet–outlet yang menjual es krim saja, namun es krim pun telah menambah daftar menu di setiap restoran, kafe, bahkan sebagai desert di acara resepsi perkawinan, khitanan, dan pesta ulang tahun anak-anak.

Melihat banyak peluang usaha yang ditawarkan dari produk es krim ini, kita dapat membuka suatu usaha dengan memproduksi sendiri es krim. Kita dapat menawarkan kepada restoran–restoran, catering–catering, dan kita pun dapat membuka outlet es krim sendiri dengan ciri khas yang kita punya.

Tim Boga kali ini akan memberi jurus untuk membuat tepung es krim sendiri. Nah, gimana sih buatnya, yuk …..kita simak.

ES KRIM MIX CHOCOLATE

Bahan–Bahan:

Susu skim                       50 gram
Susu full cream                300 gram
Gula pasir                    700 gram
Whipping cream powder        200 gram
Maldex                          40 gram
Ultra hard                    120 gram
Chocolate                       80 gram

Cara pembuatan:
1.  Masukkan bahan ke dalam wadah. Aduk hingga rata.
2.  Tepung es krim mix (+ 1.475 gram) dilarutkan dengan air 2 liter, kemudian di-mixer dengan kecepatan tinggi kira–kira 5–10 menit. Setelah mengembang, masukkan ke dalam frezzer sampai beku.
3.  Untuk membuat es krim yang lebih lembut hingga tak terasa adanya butiran ice-nya ala Mc Donald atau KFC punya, kita harus menggunakan mesin soft es krim. Caranya sama, yaitu masukkan tepung es krim mix dengan 2 liter air ke dalam mesin soft es krim, lalu tekan tombol hijau tunggu sekitar 15 menit kita sudah dapat menikmatinya.
Perhitungan Harga Jual Es Krim Tepung

Susu skim                   50 gram    Rp2.562.50
Susu full cream            300 gram    Rp10.200,00
Gula pasir                700 gram    Rp4.550,00
Whipping cream powder        200 gram    Rp22.250,00
Maldex                  40 gram    Rp16.500,00
Ultra hard                120 gram    Rp800,00
Chocolate                   80 gram    Rp5.120,00
                            Rp61.982,50

Biaya nonbahan:
Biaya tenaga kerja        =Rp5.000
Kemasan                =Rp15.000
Total biaya nonbahan      Rp20.000

Total produksi Rp61.982,50+Rp20.000,00=Rp81.982,50

Hitungan di atas menghasilkan 1.475 gram dijadikan setiap bungkus 250 gram jadi  6  bungkus dengan total biaya produksi sebesar     Rp81.982,50. Jadi, harga jual pokok es krim tepung adalah:

Rp81.982,50:6 bungkus=Rp13.663,75 atau Rp13.750,00

Perhitungan harga di atas adalah harga jual pokok. Anda dapat menjual es krim tepung dengan keuntungan sesuai yang Anda inginkan.

Cara Gampang Bikin Es Krim
Yaa… pake mesin Es Krim Donk..

Profil mesin soft es krim

Mesin soft es krim
Daya: 1,7 kw/220 volt
Kapasitas: 15 liter/jam
Dimensi: 52 x 72 x 80 cm
Berat: 120 kg

Mesin ini berfungsi sebagai pembuat soft es krim/es krim cone, seperti di MC Donald, KFC, dll. Mesin  ini bekerja menggunkan tenaga listrik. Ada 3 kran untuk 2 rasa dan 1 mix (campur). Adonan es krim yang dimasukkan dalam mesin ini diproses hanya dalam waktu 15 menit saja tidak perlu menunggu lagi.



{Februari 24, 2008}   Puisi, Menangkap Makna Melalui Kata

MENULIS puisi itu gampang. Kalau kita mencintai bahasa, maka kita akan mudah membuatnya. Tetapi bila tidak, maka proses penciptaan tersebut akan menjadi begitu sulit. Menciptakan puisi adalah sebuah proses ’permainan’. Permainan melalui apa? Melalui ’kata-kata’.
Kata-kata yang bertebaran di sekitar kita-kita tangkap, tawan, kemudian kita jinakkan. Lalu kemudian dia akan membentuk frasa, klausa, atau kalimat yang kemudian akan membentuk sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa itulah, jikalau kita mampu akan didapati makna-makna.
Kepuasan untuk mengungkapkan sebentuk makna—mungkin inilah alasan seseorang untuk menulis puisi. Teramat banyak pengalaman yang pernah dijalani seseorang dalam hidupnya, baik yang bersifat emosional, fisikal, spiritual, ataupun intelektual. Dan ternyata; tidak semua pengalaman itu dapat terungkap dengan baik. Dan puisi, mungkin merupakan salah satu media atau sarana yang cukup baik untuk menuangkan pengalaman yang bersifat emosional.
Sajak-sajak Tiffany Alessandra adalah sajak-sajak yang secara cukup gamblang berusaha untuk menangkap dan memberikan makna itu. Beberapa sajaknya seperti yang berjudul Raja Jalanan, Pesan Bunda, Penjaga Alarm, dan Tangisan Dara Cantik, mampu secara plastis memberikan atau menceritakan pesan kepada pembaca tentang apa yang sedang berlangsung di dalam pikiran Tiffany.
Dalam sajak Pesan Bunda dapat kita lihat pesan-pesan itu; anak-anakku/putarilah duniamu, isilah dengan segenap kekuatanmu../belajarlah menghargai segala ciptaannya/ terimalah perbedaan yang terjadi di duniamu/ dengan hati yang luas, seluas langit/ dst.
Sedang dalam sajak yang berjudul Penjaga Alarm secara lebih langsung lagi Tiffany berujar; ibu pertiwi memohon…/agar kita merawatnya untuk umur panjang sampai berabad-abad lagi../agar kita menghentikan perpecahan/tanpa memandang suku, bahasa, dan agama/ agar kita bersatu merawatnya dengan damai/hingga gelar lestari dapat kita raih../gelar pendosa pudar dari tangan ini/hingga penjaga alarm tersenyum dan tidak mengumbar bencana lagi.
Begitulah, sudah jelas bahwa Tiffany adalah sosok yang peduli dengan apa-apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Walaupun terkadang ia juga hanyut dalam persoalan-persoalan yang bersifat amat pribadi seperti yang tercermin dalam sajak-sajaknya yang berjudul Biru, Datang dan Pergi, dan Hadiah Tahun Baru.
Tapi, ternyata ihwal yang bersifat pribadi itu tak lantas melumpuhkan ’urat-urat syaraf sosialnya’. Dan bakat untuk menggabungkan segala yang bersifat pribadi, individualistik secara sekaligus dengan ihwal yang bersifat sosial mungkin sudah menjadi barang langka pada saat ini.
Dan bukankah itu merupakan salah satu dari tujuan manusia berkesenian, yaitu agar ia, sembari berusaha untuk mengenal terus-menerus dirinya sendiri, juga berusaha mengenal persoalan-persoalan yang ada di luar dirinya sebagai individu.
Banyak hal lain sesungguhnya di luar hanya persoalan kerinduan, pengharapan akan kekasih, atau pun putus cinta, dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan Tiffany Alessandra pada sajak-sajaknya kali ini.  
Tetapi, kata-kata di dalam puisi tak sekadar menjadi alat komunikasi. Kata dalam puisi lebih berperan sebagai alat ekspresi, atau simbolisasi. Banyak sekali gebalau perasaan yang hadir dalam diri kita, dan melalui kata-kata lah, gebalau perasaan itu harus kita ’ungkapkan’.
Puisi adalah tindak ’mengungkapkan’. Mengungkapkan perasaan, perenungan buah dari pergaulah hidup yang intens, dan lain sebagainya. Karena tidak semua perasaan atau perenungan dapat dikomunikasikan secara langsung, maka puisi diperlukan.
Atau bila gebalau perasaan dan perenungan itu sedemikian abstrak dan ’gaib’-nya untuk dikomunikasikan, maka puisi diperlukan untuk mengungkapkannya. Jadi, puisi berperan sebagai alat ungkap tak langsung atau pengungkap hal-hal yang begitu halus untuk kita rengkuh.
Puisi adalah media untuk mengomunikasikan pengalaman puitik. Pengalaman puitik adalah pengalaman yang intens (pekat, kental, menubi) tentang sesuatu. Dalam hidup sehari-hari kita kerap mengalami pengalaman puitik ini. Tapi, karena kepekaan ’sastrawi’ kurang maka pengalaman yang amat berharga itu lewat begitu saja.
Tetapi, puisi yang baik haruslah puisi yang mampu mengomunikasikan pengalaman puitik tersebut dengan jernih, bening. Ada proses rasionalisasi di situ. Karena pada saat kita terkena pada sebentuk momen puitik—kita seperti dibanjiri oleh pesona. Kita seperti masuk ke dalam kekuatan yang samar, murni, asli, tapi asing.
Pada saat itu, kesadaran kognitif kita berhenti. Di situ hanya ada emosi, aspek afektif. Maka melalui puisilah, pengalaman emosional itu kita kognitifkan. Tentunya dengan tetap menyisakan sisi emosi dari pengalaman itu. Selain ’kerumitan’, akibat lain yang dapat tercipta dari tiadanya proses selektif rasionalisasi adalah ’kekenesan’, puisi yang bertabur klise.
    Klise adalah ungkapan-ungkapan atau cara mengungkapkan sesuatu yang sejak dahulu sudah menjadi umum dan banyak dikenal. Karena itu ungkapan-ungkapan yang bersifat klise menjadi kurang segar, karena tak mengandung kebaruan. Daya kejutnya pun menjadi kurang, karena bukankah kita jarang terkejut terhadap hal-hal yang sudah amat biasa dikenal.
Pada beberapa larik dalam sajak Tiffany Alessandra dapat tertemui klise-klise ini, seperti ungkapan—menggapai apa yang selama ini tertunda (Biru), membawa sejuta kesejukan/dunia yang penuh warna/rasa yang tercipta/aku berharap kalau aku dapat berlalu dan mampu lupakan mimpi itu/berharap kau cepat berlalu selamanya (Datang dan Pergi), tangisan itu biar berlalu/berharap tak satu tetes air mata mengalir lagi dari pelupuk mata ini/ kututup semua lembaran lama/untuk akhirnya kubuka lembaran baru/sebuah untaian kata yang sederhana (Hadiah Tahun Baru), dan lain sebagainya.
Untuk selanjutnya, akan lebih baik bagi Tiffany untuk belajar lagi mengungkapkan sesuatu ke dalam puisi melalui bahasa yang penuh citra, metafora. Bukankah puisi berusaha untuk mengungkapkan sesuatu secara tak langsung untuk mengatakan banyak hal dengan kata atau kalimat sehemat mungkin.
Contoh dari gaya bahasa yang mampu digunakan dengan baik oleh Tiffany adalah pada larik air laut menggulum ombak (Biru). Pada larik itu air laut diberi perlakuan seakan-akan mahluk hidup, sehingga mampu menggulum seperti manusia. Sayang gaya bahasa semacam itu tak banyak diciptakan oleh Tiffany.
Sapardi Djoko Damono mengatakan, ”kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Kata-kata yang berserakan di sekeliling kita dengan artinya yang ’umum’ harus menyesuaikan diri dengan pengalaman puitik kita yang ’khusus’. Pengabdian total terhadap kata-kata yang sudah ada, tanpa usaha menundukkannya hanya akan menghasilkan puisi-puisi yang mentah dan membosankan.”
Lebih lanjut Sapardi Djoko Damono berujar, ”Andaikata yang utama dalam puisi adalah ide, dan bukan kata-kata, maka saya yakin bahwa setiap cerdik pandai yang memiliki ide yang bagus-bagus akan dengan mudah menulis puisi, dan selalu berhasil.” Ha ha ha ha…jadi, bermain-mainlah dengan kata-kata, maka engkau akan mampu menciptakan puisi yang indah. Sesederhana itu? Ya!, tetapi ada juga saran lainnya: puisi yang baik adalah puisi yang mau berbagi pengalaman dengan pembacanya. Sebuah puisi yang memberikan kesempatan kepada pembaca untuk ”melihat bersama, mendengar bersama, mencium bersama, bergerak bersama, atau merenung bersama.”
Ujar Goenawan Mohamad, ”puisi yang terbagus tidak memberikan petunjuk. Puisi yang terbagus hanya menghidupkan potensi yang baik dalam diri seseorang, pada saat ia tersentuh membacanya: potensi untuk bisa merasakan kesuraman sel yang pengap, atau sunyinya malam setelah seorang anak menghilang tiba-tiba.”



{Februari 24, 2008}   Sastra dan Media Cetak

KEBUTUHAN terhadap komunikasi dan informasi yang up to date dewasa ini telah melekat dalam peradaban kehidupan sosial masyarakat, mulai dari tingkatan terkecil rumah tangga sampai dengan tingkatan terbesar: negara.Kebutuhan akan informasi dahulu hanya dapat dipenuhi melalui pembicaraan tatap muka orang per orang atau face to face. Tapi, sekarang cara mendapatkan informasi tidak harus melalui tatap muka, tetapi dapat melaui sarana teknologi; koran, radio, televisi, telepon, dan internet.

Tuntutan kebutuhan terhadap informasi dalam masyarakat sebagian telah dapat dipenuhi melalui sarana telematika. Melalui sarana telematika orang dengan mudah mendapatkan informasi dari belahan dunia mana pun secara cepat.

Berita terbaru mengenai kejadian-kejadian penting dengan segera dapat dinikmati melalui cyber journalism (jurnalistik berinternet).  Meskipun sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, pemanfaatan jurnalistik berinternet masih kalah dengan media cetak khususnya surat kabar, majalah, dan jurnal-jurnal karena berbiaya murah serta mudah didapatkan.

Era demokrasi yang telah bergulir di Indonesia sejak tahun 1998 sampai sekarang belum dapat mengantarkan sastra di menara gading. Namun dunia sastra yang minim perhatian atau kurang diperhitungkan oleh masyarakat pembaca, dewasa ini telah banyak menghiasi kolom-kolom koran daerah maupun koran nasional.

Pada masa sebelum proklamasi Indonesia diikrarkan terlihat adanya semangat revolusi di dalam kesastraan dan kesenian negeri ini, selain dalam politik. Surat-surat kabar dan majalah republik bermunculan di banyak daerah, terutama di Jakarta, Jogjakarta, dan Surakarta.

Seiring dengan itu, lahirlah suatu generasi sastrawan dinamakan Angkatan ’45, dengan orang-orang yang daya kreatifnya memuncak pada zaman revolusi. Kenyataan sastra telah mampu menyemangati perjuangan revolusi pada zamannya merupakan bukti bahwa sastra bermanfaat dan dapat dinikmati.

Menurut pandangan penulis, pada saat ini sastra belum kembali pada rohnya, hal itu terlihat pada apresiasi masyarakat dalam memosisikan sastra sebagai sajian keseharian yang layak dalam kehidupan.

 Di era tahun 1945, karya sastra anak bangsa yang dimuat dalam koran mampu mengobarkan semangat juang revolusi nasional dan memopulerkan maestro sastra di Indonesia. Banyak karya-karya Chairil Anwar dimuat dalam majalah era 1945 seperti Pantja Raja, Zenith, Pembangoenan, Siasat, Internasional, Pemandangan, dan Berita. Bahkan banyak karya Pramoedya Ananta Toer: Kranji-Bokasi Jatuh, Keluarga Gerilya dikerjakan dalam penjara Belanda Bukit Duri akhirnya dipopulerkan juga oleh koran the Voice of Free Indonesia di Jakarta tahun 1947.

Hal itu telah membuktikan bahwa perjuangan bangsa ini tidak terlepas dari peran karya sastra sebagai corong perjuangan bangsa ini.

Tidak dapat dibantah lagi bahwa surat kabar berperan dalam memasyarakatkan sastra secara umum. Darmanto Jatman (1998) menceritakan di negeri Cina, tokoh sastra Lim Kim Hok dianggap sebagai orang yang berjasa menaikkan derajat bahasa Melayu Tionghoa menjadi bahasa sastra karena kesastraan Melayu Tionghoa di awal abad ke-20 semula dianggap hanya karya bahasa murahan akhirnya melalui media masa koran pada waktu itu menjadi karya bahasa terhormat.

Fungsi utama sebagai penyampai berita (message) aktual, surat kabar juga berfungsi memberikan informasi tentang perkembangan budaya, teknologi, pendidikan, politik, dan termasuk di dalamnya perkembangan sastra sebagai hasil budaya.

Dalam surat kabar, cara pandang sastrawan terhadap situasi ditampilkan dalam format lain tidak selalu sama dengan cara pandang seorang politikus, agamawan, budayawan, dan bahkan penguasa. Hal itulah yang mungkin menjadikan sastra sebagai produk yang unik dan bahkan menjadikannya terasing dari tangan penikmat.

Begitu penting kehadiran sastra dalam masyarakat, mengharuskan perlunya membangun komitmen dasar tentang kesastraan. Untuk menjalin komunikasi antara masyarakat, karya sastra, dan sastrawan banyak cara yang bisa ditempuh. Tanggung jawab untuk memasyarakatkan sastra sebenarnya tidak hanya tertumpu di pihak pemerintah, tetapi media cetak, dan masyarakat juga harus berperan untuk melestarikannya.

Yuwana Sudikan mengatakan bahwa melalui pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sastrawan bersinergi membangun atmosfer sastra di negeri ini. Sehingga tujuan ideal yang mungkin dapat dicapai, ke depan karya sastra dapat disejajarkan dengan karya iptek, karena menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef (Media Indonesia,11/03/2007), karya sastra berpotensi melahirkan pesan-pesan kultural dari kebekuan rutinitas sehari-hari. Lewat sastra, budaya dari setiap individu juga akan terbangun secara mantap.

Peran media cetak dalam memasyarakatkan sastra, dengan format sajian liputan cerpen, puisi, dan esai sastra ternyata berpengaruh terhadap pertumbuhan komunitas-komunitas sastra di masyarakat. Karena peranannya terutama di masa perjuangan mampu mengobarkan semangat juang dan mengenalkan para tokoh sastrawan di republik ini, maka media cetak pantas mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Karya sastra melalui media cetak semoga masih tetap diminati oleh sebagian banyak orang serta sastra tidak menjadi terkungkung dalam dunianya sendiri



{Februari 24, 2008}   Puisi: Logika, Estetika, dan Etika

AWAL Agustus 2007, terjadi kehebohan di Bandung. Sebuah puisi karya Saeful Badar yang dimuat di rubrik harian Pikiran Rakyat (4/8) dinilai sebagian pembaca telah menghina agama Islam. Puisi berjudul Malaikat itu dinilai menghujat salah satu rukun Islam (percaya pada malaikat).

Larik-larik sajak Malaikat berbunyi sebagai berikut:

Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai mahluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru

Seorang sastrawan dan jurnalis senior di Bandung pun meradang. Ia menilai sajak itu sebagai karya yang tidak memiliki estetika sastra dan tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama. Ia pun mengharapkan umat Islam menuntut Pikiran Rakyat melakukan tindakan setimpal, baik terhadap penulis sajak itu, maupun redaktur yang memuatkannya, serta membuat permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pembaca Pikiran Rakyat yang mayoritas muslim.
Menurut si penyair –penulis yang juga jurnalis itu, bagi setiap Muslim beriman, malaikat tidak memiliki sifat-sifat seperti yang dipaparkan Saeful Badar. Katanya, jika dibiarkan, sajak semacam itu akan mengundang pertentangan dan kebencian bernuansa SARA. Terutama sentimen terhadap Islam dan kaum Muslimin. Saeful Badar juga dituduh sebagai penyair yang berada satu gerbong dengan para sastrawan kelompok Teater Utan Kayu (TUK) dan ”sastrawan liar” yang sering menulis karya sastra berbau seksis.
Kasus sajak Saeful Badar tersebut menegaskan, masih ada ketegangan antara etika dan estetika dalam karya sastra. Di ruang sempit ini, saya tidak hendak membela Saeful Badar atau bahkan memperberat ”vonis” terhadapnya. Saya ingin mendudukkan masalah pada proporsinya untuk diambil hikmahnya bagi para penulis (penyair) pemula.
Terlepas dari makna sajak tersebut, saya melihat ada tuduhan yang berlebihan terhadap Saeful Badar. Sajak tersebut menurut saya biasa-biasa saja. Pemakaian kata ”mentang-mentang”, ”nyinyir”, ”cerewet”, ”berlagak”, dan sebagainya adalah upaya penyairnya untuk melakukan main-main dengan kata. Semuanya masih dalam kerangka yang oleh Johan Huizinga sebut sebagai ”dunia permainan.” Sebagai karya sastra, saya menilai puisi tersebut sebagai puisi yang gagal. Sebab, selain main-main kata dengan dunia main-main, tak ada estetika bahasa yang dieksplorasi oleh penyairnya. Logika penyairnya pun juga tampak ”tidak jalan.”
Dalam taksonomi ilmu pengetahuan, logika berbicara soal benar-salah, estetika berbicara soal indah-tak indah, dan etika berbicara soal baik-buruk. Calon sastrawan, bagaimanapun harus paham tentang perbedaan ketiganya sehingga tidak gampang ”terpeleset” ketika menulis karya sastra. Kalau sudah menjadi ”sastrawan besar” mungkin akan lain ceritanya.
Bagaimanapun, sajak atau puisi adalah hasil ciptaan seorang penyairnya berdasarkan impuls-impuls yang didapatnya. Impuls, rangsangan kreatif, dan ide kreatif itu kemudian ditulis oleh penyair berdasarkan tingkat pencapaian estetika tertentu. Dalam sastra —termasuk puisi—adagium bahwa puisi adalah bebas nilai sampai hari ini masih berlaku. Meskipun begitu, banyak juga kalangan yang mempersoalkan masalah ”kebebasan” dalam karya sastra. Artinya, dalam praktik sehari-hari, ”kebebasan kreatif” seorang penyair, cerpenis, novelis, dan kreator sastra lainnya tetap ada batasannya. Salah satu batasannya adalah norma agama atau etika.
Karya sastra biasanya akan mengalami ketegangan, mendapatkan protes keras dari publik, dan dianggap ”bermasalah” jika sudah menyentuh soal aqidah atau ajaran agama tertentu. Di Indonesia, masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) juga sering memicu ketegangan. Dengan begitu, karena sastrawan masih hidup dan tinggal di Indonesia, mau tidak mau harus memahami rambu-rambu. Artinya, pemakaian logika dan mempertimbangkan etika pun menjadi penting dalam menulis karya sastra. Apalagi, karya sastra dengan bahasa yang lugas.
     Alquran sendiri menempatkan malaikat sebagai makhluk yang sangat baik dan pengabdi setia Allah SWT. Beberapa surat dalam Alquran yang menyebutkan watak, sifat, dan peran malaikat, antara lain al Baqarah: 177, 285, Ali Imran 39,42,124, 125, an Nisa 97, 172, al Anfaal 9, 12, al Hijir 8, aqsy Syura 5, at Tahrim 4, 6, al Ma’aarij 4 dan al Ahzab 56. Khusus tentang Malaikat Jibril terdapat dalam Q.s.an Najm : 1-14 dan S.al Qadar.
Bagi umat Islam, malaikat bukan sosok mainan. Bukan makhluk yang ”nyinyir” dan ”cerewet”, ”berlagak sebagai makhluk baik”, ”galak” dan ”usil”, serta ”tukang meniup-niupkan wahyu dan maut.” Malaikat adalah sosok mulia yang tak dapat dipermainkan baik oleh ucapan, kalimat, maupun tindakan oleh seorang penyair sekalipun.
Di kalangan muslim sendiri, hingga hari ini ada keyakinan bahwa penyair adalah penunjuk jalan sesat. Salah satu acuannya adalah QS. Asy-Syu’ara:224-227. Dalam surat itu disebutkan: ”Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau (Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya.”
Anggapan yang miring terhadap penyair, tak lain dan tak bukan karena ”pembacaan” yang tak lengkap terhadap ayat Alquran. Bukankah di akhir ayat tersebut disebutkan ”kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah dan bangkit melawan setelah dianiaya?” Itu berarti penyair bisa juga menjadi sosok yang beriman.
Di Indonesia, pengertian sastra sudah lama mengalami perluasan arti. Sastra bukan hanya mencakup seputar tulisan yang bermakna seni saja, tetapi juga mencakup banyak hal berkaitan dengan realitas sosial, budaya, dan religiusitas. Karena sastra menyangkut kehidupan manusia, kata Sastre, sastra tidak akan lepas dari ideologi yang menjadi kebiasaan sebuah komunitas tertentu (kebudayaan, religiusitas). Ia juga menyangkut nilai, ideologi, dan etika. Sampai di sini jelaslah bahwa sebuah karya sastra bukan hanya menyangkut estetika. Estetika hanya unsur komunikasi dalam etika sastra.



{Februari 24, 2008}   RAHASIA ANGKA SEJATI

Hai Kawan, masih ingat pada angka ajaib? Yap, angka 1 dan 9 adalah angka ajaib. Kali ini, kakak akan membongkar keunikan serta keajaiban angka 1 dan 9. Asal tahu aja, ternyata kedua angka ini punya kekerabatan yang sangat dekat. Maksudnya, dalam setiap model perhitungan, keduanya saling melekat. Uniknya, hasil perhitungan selalu kembali pada angka awal. Pokoknya keren abis deh!

    Yang perlu diperhatikan, model perhitungan yang dipakai berurutan, yakni Kali (X), dibagi (:), tambah (+), kurang (-), jangan dibolak-balik. Yuk, kita coba uraikan.

- Buatlah angka 1 sembilan digit (contoh 111111111)

- Kalikan angka 1 sembilan digit ini dengan 9 (maka 111111111 X 9 = 999999999)

- Bagi dengan 9, maka menjadi 111111120

- Kurangi dengan 9, maka menjadi 111111111 (kembali ke angka semula, kan)
Lalu, bagaimana dengan angka 9? Angka ini juga tak kalah keren. Coba langkah berikut ini:

- Buatlah angka 9 sebanyak sembilan digit (999999999)

- Selanjutnya kali 9

- Bagi 9

- Tambah 9

- Dan kurangi dengan 9

Ciluk ba, bagaimana dengan hasil perhitungannya? Angka 9 kembali ke bentuk sembilan digit seperti semula, bukan?
Jika perhitungan kalian tak sama dengan angka awal, alias angka 9 sembilan digit, maka bisa dipastikan perhitungan kalian salah. Pokoknya, angka 1 dan 9 itu keren abis deh. Maka itu, oleh banyak pendekar matematika, angka 1 dan angka 9 dikenal sebagai angka sakti. Hmm, benar kan kesaktiannya? Selamat mencoba!   



{Februari 24, 2008}   DAUR ULANG SAMPAH PLASTIK

APA benar semua sampah itu tidak bisa dimanfaatkan? Padahal di lingkungan tempat tinggalku banyak orang yang mata pencahariannya mengelola sampah plastik dan kertas didaur ulang untuk dibuat berbagai macam peralatan rumah tangga. Oh ya, ternyata mengumpulkan sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan kembali itu tidak terlalu mudah. Ikuti ceritaku, ya!

Teman-teman,
Namaku Ardana Aulia Anggreani, aku duduk di kelas 3. Aku tinggal di dekat jembatan terkenal yang belum selesai, Suramadu. Di sana banyak orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan mengelola sampah. Maklum, di daerah tersebut banyak tanah kosong bekas tambak yang tidak digunakan. Udaranya juga sangat panas karena jarang ada pohon. Jadinya, cocok untuk usah pengolahan sampah.

Kawan, setiap hari aku membantu kakek mengolah sampah plastik, lho. Kakek memiliki mesin penghancur sampah plastik. Hampir setiap hari, mesin itu beroprasi. Berkarung-karung sampah plastik berbagai jenis siap dihancurkan menjadi butiran-butiran kecil. Nah, butiran tersebut akan dijual dan dibawa ke pabrik besar. Di sana akan diolah kembali menjadi aneka barang peralatan rumah tangga.
Kakekku memiliki enam pegawai yang bekerja dari pagi hingga sore hari. Mereka bekerja menggiling sampah dan sebagian memilah-milah sampah plastik yang disetorkan para pemulung atau pengepul. Sampah plastik dibedakan jenisnya dari galon, gelas dan botol kemasan, pot bunga, asbak, maupun tempat kaset. Jenis paling mahal adalah tempat kaset. Jika dihancurkan, harga jualnya mencapai tujuh hingga sembilan ribu per kilogram, lho.
Oh ya, untuk menggiling sampah masih harus dibedakan lagi, yakni basah dan kering. Kalau menggiling kering, berarti sampah plastik harus dibersihkan dari kotoran terlebih dahulu. Sedangkan menggiling basah, semua plastik tidak perlu dibersihkan, tapi hargnya jauh lebih murah. Selain itu, tiap warna dikumpulkan menjadi satu dan digiling sendiri-sendiri. Memang tidak boleh dicampur supaya dalam pengolahan selanjutnya lebih mudah dan sewarna.
Menurut kakek, usaha yang ditekuninya sangat menguntungkan. Setiap bulan, hampir Rp25 juta dihasilkan dari mengelola sampah. Harga mesin pengolahnya Rp25 juta, jadi dalam beberapa bulan, kakek bisa menutup modalnya. Itu menurut perkiraanku, lho. Untuk merawat mesinnya pun tidak terlalu sulit. Hanya sering mengganti pisau penghancur plastik. Sebab, pisau sering kali rusak bila plastik kurang tebal, seperti botol dan gelas kemasan.
Kakek sering mengeluh karena sampah plastik yang dikumpulkan pengepul sering tidak memenuhi permintaan pabrik. Kalau sampah tersebut tidak ada, proses giling-menggiling jadi berhenti sementara. Para pekerja pun mendapat tugas mencuci sampah plastik yang tersisa. Proses mencuci sampah plastik memakan waktu dua minggu. Karena harus dikeringkan dengan sinar matahari. Saat musim hujan, proses pengeringan sampah menjadi terhambat. Begitulah ceritaku.
Aku pasti akan meneruskan usaha kakek jika besar nanti. Makanya, aku gemar membaca dan belajar. Aku ingin sukses dan menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negar



{Februari 24, 2008}   SEMUA TENTANG CINTA

Jangan pernah katakan cinta
Jika kamu tidak pernah peduli

Jangan bicara tentang perasaan
Jika rasa itu tidak pernah ada

Jangan pernah genggam jemari
Jika berniat membuat patah hati

Jangan pernah katakan selamanya
Jika berniat untuk berpisah

Jangan pernah menatap mataku
Jika yang kamu ucapkan adalah kebohongan

Jangan pernah ucapkan “Halo”
Jika berniat mengucapkan “Selamat Tinggal”

Jangan pernah bilang kalau “Akulah satu-satunya”
Jika kamu mengimpikan yang lainnya

Jangan pernah mengunci hatiku
Jika kamu tidak punya kuncinya

Cinta itu akan menjadi kematian bagimu, kalo kamu
terperangkap olehnya.
Cinta bagai misteri datang dan pergi tanpa permisi.

Kamu tak perlu mencarinya karena cinta akan datang
pada waktu yang tepat.
Kamu tak dapat membelinya karena harga sebuah cinta
sangatlah mahal

Cinta akan lahir pada saat yang tepat tanpa kita
ketahui kapan, dan tanpa
kita ketahui kepada siapa. Jika suatu hari pasangan
anda mengatakan “Aku tak
mencintaimu lagi”, Let it go, walaupun practically
susah bagi sebagian
orang. Biarkan berlalu karena cinta tak dapat
dipaksakan. Jika cinta
dipaksakan cinta tersebut layaknya akan dapat
meledak menjadi kebencian. Let
it go. Cinta akan datang kembali kepada kamu suatu
waktu, entah kapan
pokoknya pada waktu yang tepat menurut ukuran Tuhan.
Tuhan tak akan
membiarkan kamu sendirian.

Lalu bagaimana dengan perasaan kamu kalo kamu
ditinggal ama cinta ?
Simpanlah dalam-dalam cinta tersebut. Kenanglah
sebagai bagian dari
pengalaman hidupmu. Menangislah jika perlu.
Berbahagialah karena anda pernah
dicintai, berbahagia karena cinta pernah ada di
hatimu.

Bagi yang cowok jangan pernah jadikan kecantikan
sebagai ukuran kamu untuk
mencintai seseorang karena akan sangat gampang
sekali membuat cinta terus
menguasai dirimu. Tapi pandanglah jauh ke depan
pikirkan baik-baik karena
semua akan menyangkut masa depanmu.

Bagi yang cewek jangan jadikan uang, kedudukan dan
segala yang fana jadi
titik point dari Cintamu karena akan sangat gampang
sekali uang, kedudukan
dan segala yang fana akan membutakan cintamu.
Seolah-olah engkau hanya cinta
akan uang, kedudukan dan segala yang fana daripada
kamu sendiri merasakan
cinta itu

Bagaimana jika cinta hilang dalam sebuah perkawinan ?
Dalam suatu
perkawinan, cinta adalah cinta yang harus
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan
dan kepada suami/istri dan kepada anak (jika ada).
Kamu nggak bisa pergi
begitu saja dengan mengatakan “Aku tak mencintai
kamu lagi.”

Dalam sebuah perkawinan “ANDA” adalah dua menjadi
satu “ANDA” adalah
suami/istri dan kamu sendiri. Jangan turuti kemauan
anda tapi turuti kemauan
“ANDA”. Bagi anda yang mencintai, ubahlah makna
cinta menjadi KASIH.

Cinta itu bersemayam di dalah hati (bukan di otak
atau pikiran), jika hati
anda penuh dengan kasih, cinta tak akan pernah
hilang dari diri anda.

Kasih itu sabar ; Kasih tidak cemburu ; Kasih
menerima apa adanya dan
memberi yang ada ;

Kasih itu komitmen sehingga seseorang yang memiliki
kasih tak akan melupakan
cintanya ;

Kasih itu mengampuni dan memaafkan : Kasih adalah
Cinta Sejati karena
berasal dari Tuhan. Tanamkan Kasih di hati anda
sejak awal maka Cinta anda
tak akan hilang

Tanamkan kasih maka kamu akan bertahan jika
kekasihmu mengatakan, “Aku tak
mencintaimu lagi” Berat memang, apalagi jika kita
masih mengasihi dia. Jika
kamu dan pasangan kamu memiliki kasih, kamu berdua
boleh mengatakan : “Orang
ketiga ? Siapa takutttt”

Segala perubahan butuh waktu.
Lakukan-lah semuanya dengan kasih.
Selamat mencoba dan sukses untuk anda.



{Februari 24, 2008}   PASKAH DIHADAPAN KUBUR KOSONG

BERBEDA dengan kitab-kitab Injil lainnya, Injil menurut Markus menutup tuturannya dengan mengejutkan sekali: “Lalu mereka (para murid Yesus) keluar dan lari meninggalkan kubur (Yesus) itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut” (Mrk 16:8). Karena sedemikian mengejutkannya, sampai-sampai penyunting dan penyalin Injil Markus itu kemudian menambah ending sampai 12 setengah ayat lagi; namun para ahli Biblika bersepakat, Markus (kitab Injil tertua itu) menutup narasi hidup Yesus dengan kisah Kubur Kosong!

Siasat apa yang Markus tengah rancang melalui narasinya itu? Mengapakah kisah Paskah-Kebangkitan seolah hendak dibelokkan oleh Markus menjadi kisah yang terbuka, penuh tanya, dan lalu malah diberi arah baru, bahwa murid-murid Yesus harus pergi ke Galilea (Mrk 16:7), dan harus terus menempuh jalan panjang lagi?

Juga, mengapa Markus menulis penampakan malaikat yang memberitakan kabar kebangkitan Yesus pertama-tama diungkapkan kepada para perempuan, yang dalam tradisi patriarkat Yahudi dianggap sebagai makhluk yang tidak terpercaya dan tidak objektif menangkap fakta?

Bukankah nanti Kebangkitan bisa menjadi gosip, kabar angin, dan produk sikap subjektif?

Rupanya, sang redaktur Injil itu (baca: Markus) berada di tengah krisis, dan konteks itulah yang mendorongnya melancarkan kiat sastra yang jitu saat menulis kitab Injil Markus.

Ia adalah bagian dari generasi kedua Kekristenan yang terkejut dengan deraan hidup, yang dikira semula akan usai kalau Kristus yang bangkit datang mengangkat mereka keluar dari beban sehari-hari. Sehingga, suatu iman yang mengira bisa secara penuh mengubah realitas, bagi Markus, malah akan membahayakan Kekristenan.

Bagi Markus, kebangkitan bukanlah triumfalismetotal atas kesusahan sehari-hari. Paskah bukanlah kemenangan akhir. Baginya, Paskah berarti bahwa jalan masih terbuka (“sekarang pergilah … ke Galilea”) untuk bertemu Kristus Sang Anak Manusia itu, di setiap perkara hidup.

Dan, jalan terbuka itu harus dijalani terus, apalagi semua tahu, Kristus Sang Anak Manusia baru saja berjalan dengan kepala yang berdarah.

Jangan sampai mahkota duri terlupakan, sebab melalui ketekunan menghadapi kesulitan hidup sehari-harilah Yesus dinyatakan sebagai kekasih Allah.

Hal itu perlu dicatat, sebab sejak semula para murid Yesus saat itu hanya mau melihat Yesus selaku Mesias-Penebus, yang memberi mereka makan (melalui mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan).

Akan tetapi, mereka buta mengenai Yesus Sang Hamba Allah yang menderita, yang memberi nyawa-Nya bagi sesama (Mrk 10:35-45).

Makanya, makin tambah penjelasan mengapa Markus menutup kisah Injil-nya dengan mendadak dalam lakon para murid yang takut, hal itu dilakukan agar kita kini -pembaca kontemporer Injil Markus- masuk dan menggantikan para murid yang tersekap dalam gentar dan kecut itu.

Kini, kita pun berdiri di hadapan kubur kosong, dan dipesankan bahwa Yesus sudah bangkit, dan malah telah mendahului kita melanjutkan lagi perjalanan memasuki setiap kelok perkara hidup sehari-hari. Dan, jalan terus terbuka, sekalipun berita kebangkitan itu lebih sebagai produk sikap subjektif iman, bukan suatu ihwal objektif yang beku.

Kita yang berdiri di hadapan jalan yang terbuka itu -sambil menemukan inspirasi dari kisah Paskah menurut Injil Markus – perlu juga terus ikut mengambil langkah menemukan makna kisah Paskah ini bagi kita. Paskah-Kebangkitan tampaknya serentak adalah suatu tindakan Allah dan juga langkah manusia.

“Kebangkitan Yesus Anak Manusia yang mati di salib” itu kini menjadi suatu metafora rohani, suatu pesan akan keserbamungkinan untuk tetap melangkah dan tidak tersekap dalam fatigue (kelelahan buntu) hidup sehari-hari di negeri yang mencoba bertransisi ini.

Dan, tampaknya memang hari-hari kita sudah lelah pasca-tumbangnya rezim Soeharto: mulai dari kerusuhan, konflik horizontal, kekerasan konspiratif aparat negara, sampai kegalauan menghadapi kebijakan kenaikan BBM yang tampak angkuh dan tak perduli dengan hidup sehari-hari rakyat kecil.

Tetapi, justru kita tidak boleh berlindung pada agama di tengah-tengah semua itu, tidak juga kita boleh mengungsi kepada Tuhan. Paskah bukan tentang jaminan bahwa semua hal akan dibereskan oleh Tuhan, bukan pula semua kesulitan akan lenyap.

Paskah, bagaimanapun, bukan perayaan akhir zaman. Namun, Paskah adalah undangan bagi manusia -yang kalau mau memakai mata hati imannya – untuk terus melangkah, bekerja dengan mata yang terarah ke depan. Ia kiranya sudi bekerja dalam detail-detail keseharian, dan mencoba memantapkan kakinya, walau tahu bahwa arah hidup bersama di Indonesia ini serba tidak menentu.

*

Dan, kiranya ia juga melihat bahwa Allah adalah horizon harapan itu sendiri, yang entah mengapa, membuatnya tidak menghindar lari dari musim pancaroba yang panjang di negeri ini. Juga, dalam perspektif Paskah sedemikian inilah kita perlu memerikan ihwal besar, namun tetap tampak tak terpahami, yang melanda bangsa kita, yaitu tsunami Desember lalu.

Mungkin sebelum ke soal tsunami Aceh-Nias itu, ada pengalaman lain yang juga tak terperikan, yang dialami anak-anak Yahudi, yaitu peristiwa shoah (holocaust, pembasmian besar-besaran) di zaman Nazi-Hitler itu. Bahkan seorang seperti Ulrich E Simon (yang menulis A Theology of Auschwitz) mengatakan, tanpa Kebangkitan (Yesus) shoah betul-betul neraka.

Baginya, peristiwa yang tak terpahami di masa lalu hanya bisa dihapuskan oleh peristiwa di masa depan. Dengan demikian makna Paskah berarti juga bahwa jejak kebangkitan telah mulai menjejas di jalan kita, dan di hadapan kita terbentang penyingkapan baru yang akan menjelaskan makna peristiwa yang membingungkan sekalipun.

Dan, sikap atas tsunami kiranya sama: kita memang tak paham mengapa hal itu terjadi di Aceh-Nias, dan agama-agama yang hanya bermodalkan teologi “hukuman-berkat” tidak akan mampu lagi menjelaskan soal itu. Tak mungkin dikatakan bahwa Tsunami adalah hukuman Ilahi, tak juga ada yang berani mendedah bahwa kita yang lolos darinya diberkati Tuhan.

Dengan berita Paskah, kita umat beragama diingatkan akan kebangkitan, dan itu berarti kemungkinan hidup masih terbuka di depan kita semua. Kalau begitu, hanya kerja demi masa depan yang baik yang maksimal kita bisa percayai sebagai pesan Tuhan bagi bangsa kita saat ini.

Memang -sekali lagi – kita harus terus berjalan dan pergi ke “Galilea”, suatu kota simbolik di masa depan, di mana umat yang lelah berjalan tetap giat bekerja membangun komunitas bersama yang baru.



{Februari 24, 2008}   BAHAYA ROKOK

Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik (Asril Bahar, harian umum Republika, Selasa 26 Maret 2002 : 19). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8 – 20 mg nikotin dan setelah di bakar nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25 persen. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.

Nikotin itu di terima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. (Agnes Tineke, Kompas Minggu 5 Mei 2002: 22). Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang.

Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat



et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.