Zindypink’s Weblog











{Februari 24, 2008}   DAUR ULANG SAMPAH PLASTIK

APA benar semua sampah itu tidak bisa dimanfaatkan? Padahal di lingkungan tempat tinggalku banyak orang yang mata pencahariannya mengelola sampah plastik dan kertas didaur ulang untuk dibuat berbagai macam peralatan rumah tangga. Oh ya, ternyata mengumpulkan sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan kembali itu tidak terlalu mudah. Ikuti ceritaku, ya!

Teman-teman,
Namaku Ardana Aulia Anggreani, aku duduk di kelas 3. Aku tinggal di dekat jembatan terkenal yang belum selesai, Suramadu. Di sana banyak orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan mengelola sampah. Maklum, di daerah tersebut banyak tanah kosong bekas tambak yang tidak digunakan. Udaranya juga sangat panas karena jarang ada pohon. Jadinya, cocok untuk usah pengolahan sampah.

Kawan, setiap hari aku membantu kakek mengolah sampah plastik, lho. Kakek memiliki mesin penghancur sampah plastik. Hampir setiap hari, mesin itu beroprasi. Berkarung-karung sampah plastik berbagai jenis siap dihancurkan menjadi butiran-butiran kecil. Nah, butiran tersebut akan dijual dan dibawa ke pabrik besar. Di sana akan diolah kembali menjadi aneka barang peralatan rumah tangga.
Kakekku memiliki enam pegawai yang bekerja dari pagi hingga sore hari. Mereka bekerja menggiling sampah dan sebagian memilah-milah sampah plastik yang disetorkan para pemulung atau pengepul. Sampah plastik dibedakan jenisnya dari galon, gelas dan botol kemasan, pot bunga, asbak, maupun tempat kaset. Jenis paling mahal adalah tempat kaset. Jika dihancurkan, harga jualnya mencapai tujuh hingga sembilan ribu per kilogram, lho.
Oh ya, untuk menggiling sampah masih harus dibedakan lagi, yakni basah dan kering. Kalau menggiling kering, berarti sampah plastik harus dibersihkan dari kotoran terlebih dahulu. Sedangkan menggiling basah, semua plastik tidak perlu dibersihkan, tapi hargnya jauh lebih murah. Selain itu, tiap warna dikumpulkan menjadi satu dan digiling sendiri-sendiri. Memang tidak boleh dicampur supaya dalam pengolahan selanjutnya lebih mudah dan sewarna.
Menurut kakek, usaha yang ditekuninya sangat menguntungkan. Setiap bulan, hampir Rp25 juta dihasilkan dari mengelola sampah. Harga mesin pengolahnya Rp25 juta, jadi dalam beberapa bulan, kakek bisa menutup modalnya. Itu menurut perkiraanku, lho. Untuk merawat mesinnya pun tidak terlalu sulit. Hanya sering mengganti pisau penghancur plastik. Sebab, pisau sering kali rusak bila plastik kurang tebal, seperti botol dan gelas kemasan.
Kakek sering mengeluh karena sampah plastik yang dikumpulkan pengepul sering tidak memenuhi permintaan pabrik. Kalau sampah tersebut tidak ada, proses giling-menggiling jadi berhenti sementara. Para pekerja pun mendapat tugas mencuci sampah plastik yang tersisa. Proses mencuci sampah plastik memakan waktu dua minggu. Karena harus dikeringkan dengan sinar matahari. Saat musim hujan, proses pengeringan sampah menjadi terhambat. Begitulah ceritaku.
Aku pasti akan meneruskan usaha kakek jika besar nanti. Makanya, aku gemar membaca dan belajar. Aku ingin sukses dan menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: