Zindypink’s Weblog











{Februari 24, 2008}   Puisi: Logika, Estetika, dan Etika

AWAL Agustus 2007, terjadi kehebohan di Bandung. Sebuah puisi karya Saeful Badar yang dimuat di rubrik harian Pikiran Rakyat (4/8) dinilai sebagian pembaca telah menghina agama Islam. Puisi berjudul Malaikat itu dinilai menghujat salah satu rukun Islam (percaya pada malaikat).

Larik-larik sajak Malaikat berbunyi sebagai berikut:

Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai mahluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru

Seorang sastrawan dan jurnalis senior di Bandung pun meradang. Ia menilai sajak itu sebagai karya yang tidak memiliki estetika sastra dan tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama. Ia pun mengharapkan umat Islam menuntut Pikiran Rakyat melakukan tindakan setimpal, baik terhadap penulis sajak itu, maupun redaktur yang memuatkannya, serta membuat permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pembaca Pikiran Rakyat yang mayoritas muslim.
Menurut si penyair –penulis yang juga jurnalis itu, bagi setiap Muslim beriman, malaikat tidak memiliki sifat-sifat seperti yang dipaparkan Saeful Badar. Katanya, jika dibiarkan, sajak semacam itu akan mengundang pertentangan dan kebencian bernuansa SARA. Terutama sentimen terhadap Islam dan kaum Muslimin. Saeful Badar juga dituduh sebagai penyair yang berada satu gerbong dengan para sastrawan kelompok Teater Utan Kayu (TUK) dan ”sastrawan liar” yang sering menulis karya sastra berbau seksis.
Kasus sajak Saeful Badar tersebut menegaskan, masih ada ketegangan antara etika dan estetika dalam karya sastra. Di ruang sempit ini, saya tidak hendak membela Saeful Badar atau bahkan memperberat ”vonis” terhadapnya. Saya ingin mendudukkan masalah pada proporsinya untuk diambil hikmahnya bagi para penulis (penyair) pemula.
Terlepas dari makna sajak tersebut, saya melihat ada tuduhan yang berlebihan terhadap Saeful Badar. Sajak tersebut menurut saya biasa-biasa saja. Pemakaian kata ”mentang-mentang”, ”nyinyir”, ”cerewet”, ”berlagak”, dan sebagainya adalah upaya penyairnya untuk melakukan main-main dengan kata. Semuanya masih dalam kerangka yang oleh Johan Huizinga sebut sebagai ”dunia permainan.” Sebagai karya sastra, saya menilai puisi tersebut sebagai puisi yang gagal. Sebab, selain main-main kata dengan dunia main-main, tak ada estetika bahasa yang dieksplorasi oleh penyairnya. Logika penyairnya pun juga tampak ”tidak jalan.”
Dalam taksonomi ilmu pengetahuan, logika berbicara soal benar-salah, estetika berbicara soal indah-tak indah, dan etika berbicara soal baik-buruk. Calon sastrawan, bagaimanapun harus paham tentang perbedaan ketiganya sehingga tidak gampang ”terpeleset” ketika menulis karya sastra. Kalau sudah menjadi ”sastrawan besar” mungkin akan lain ceritanya.
Bagaimanapun, sajak atau puisi adalah hasil ciptaan seorang penyairnya berdasarkan impuls-impuls yang didapatnya. Impuls, rangsangan kreatif, dan ide kreatif itu kemudian ditulis oleh penyair berdasarkan tingkat pencapaian estetika tertentu. Dalam sastra —termasuk puisi—adagium bahwa puisi adalah bebas nilai sampai hari ini masih berlaku. Meskipun begitu, banyak juga kalangan yang mempersoalkan masalah ”kebebasan” dalam karya sastra. Artinya, dalam praktik sehari-hari, ”kebebasan kreatif” seorang penyair, cerpenis, novelis, dan kreator sastra lainnya tetap ada batasannya. Salah satu batasannya adalah norma agama atau etika.
Karya sastra biasanya akan mengalami ketegangan, mendapatkan protes keras dari publik, dan dianggap ”bermasalah” jika sudah menyentuh soal aqidah atau ajaran agama tertentu. Di Indonesia, masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) juga sering memicu ketegangan. Dengan begitu, karena sastrawan masih hidup dan tinggal di Indonesia, mau tidak mau harus memahami rambu-rambu. Artinya, pemakaian logika dan mempertimbangkan etika pun menjadi penting dalam menulis karya sastra. Apalagi, karya sastra dengan bahasa yang lugas.
     Alquran sendiri menempatkan malaikat sebagai makhluk yang sangat baik dan pengabdi setia Allah SWT. Beberapa surat dalam Alquran yang menyebutkan watak, sifat, dan peran malaikat, antara lain al Baqarah: 177, 285, Ali Imran 39,42,124, 125, an Nisa 97, 172, al Anfaal 9, 12, al Hijir 8, aqsy Syura 5, at Tahrim 4, 6, al Ma’aarij 4 dan al Ahzab 56. Khusus tentang Malaikat Jibril terdapat dalam Q.s.an Najm : 1-14 dan S.al Qadar.
Bagi umat Islam, malaikat bukan sosok mainan. Bukan makhluk yang ”nyinyir” dan ”cerewet”, ”berlagak sebagai makhluk baik”, ”galak” dan ”usil”, serta ”tukang meniup-niupkan wahyu dan maut.” Malaikat adalah sosok mulia yang tak dapat dipermainkan baik oleh ucapan, kalimat, maupun tindakan oleh seorang penyair sekalipun.
Di kalangan muslim sendiri, hingga hari ini ada keyakinan bahwa penyair adalah penunjuk jalan sesat. Salah satu acuannya adalah QS. Asy-Syu’ara:224-227. Dalam surat itu disebutkan: ”Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau (Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya.”
Anggapan yang miring terhadap penyair, tak lain dan tak bukan karena ”pembacaan” yang tak lengkap terhadap ayat Alquran. Bukankah di akhir ayat tersebut disebutkan ”kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah dan bangkit melawan setelah dianiaya?” Itu berarti penyair bisa juga menjadi sosok yang beriman.
Di Indonesia, pengertian sastra sudah lama mengalami perluasan arti. Sastra bukan hanya mencakup seputar tulisan yang bermakna seni saja, tetapi juga mencakup banyak hal berkaitan dengan realitas sosial, budaya, dan religiusitas. Karena sastra menyangkut kehidupan manusia, kata Sastre, sastra tidak akan lepas dari ideologi yang menjadi kebiasaan sebuah komunitas tertentu (kebudayaan, religiusitas). Ia juga menyangkut nilai, ideologi, dan etika. Sampai di sini jelaslah bahwa sebuah karya sastra bukan hanya menyangkut estetika. Estetika hanya unsur komunikasi dalam etika sastra.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: