Zindypink’s Weblog











{Februari 24, 2008}   Puisi, Menangkap Makna Melalui Kata

MENULIS puisi itu gampang. Kalau kita mencintai bahasa, maka kita akan mudah membuatnya. Tetapi bila tidak, maka proses penciptaan tersebut akan menjadi begitu sulit. Menciptakan puisi adalah sebuah proses ’permainan’. Permainan melalui apa? Melalui ’kata-kata’.
Kata-kata yang bertebaran di sekitar kita-kita tangkap, tawan, kemudian kita jinakkan. Lalu kemudian dia akan membentuk frasa, klausa, atau kalimat yang kemudian akan membentuk sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa itulah, jikalau kita mampu akan didapati makna-makna.
Kepuasan untuk mengungkapkan sebentuk makna—mungkin inilah alasan seseorang untuk menulis puisi. Teramat banyak pengalaman yang pernah dijalani seseorang dalam hidupnya, baik yang bersifat emosional, fisikal, spiritual, ataupun intelektual. Dan ternyata; tidak semua pengalaman itu dapat terungkap dengan baik. Dan puisi, mungkin merupakan salah satu media atau sarana yang cukup baik untuk menuangkan pengalaman yang bersifat emosional.
Sajak-sajak Tiffany Alessandra adalah sajak-sajak yang secara cukup gamblang berusaha untuk menangkap dan memberikan makna itu. Beberapa sajaknya seperti yang berjudul Raja Jalanan, Pesan Bunda, Penjaga Alarm, dan Tangisan Dara Cantik, mampu secara plastis memberikan atau menceritakan pesan kepada pembaca tentang apa yang sedang berlangsung di dalam pikiran Tiffany.
Dalam sajak Pesan Bunda dapat kita lihat pesan-pesan itu; anak-anakku/putarilah duniamu, isilah dengan segenap kekuatanmu../belajarlah menghargai segala ciptaannya/ terimalah perbedaan yang terjadi di duniamu/ dengan hati yang luas, seluas langit/ dst.
Sedang dalam sajak yang berjudul Penjaga Alarm secara lebih langsung lagi Tiffany berujar; ibu pertiwi memohon…/agar kita merawatnya untuk umur panjang sampai berabad-abad lagi../agar kita menghentikan perpecahan/tanpa memandang suku, bahasa, dan agama/ agar kita bersatu merawatnya dengan damai/hingga gelar lestari dapat kita raih../gelar pendosa pudar dari tangan ini/hingga penjaga alarm tersenyum dan tidak mengumbar bencana lagi.
Begitulah, sudah jelas bahwa Tiffany adalah sosok yang peduli dengan apa-apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Walaupun terkadang ia juga hanyut dalam persoalan-persoalan yang bersifat amat pribadi seperti yang tercermin dalam sajak-sajaknya yang berjudul Biru, Datang dan Pergi, dan Hadiah Tahun Baru.
Tapi, ternyata ihwal yang bersifat pribadi itu tak lantas melumpuhkan ’urat-urat syaraf sosialnya’. Dan bakat untuk menggabungkan segala yang bersifat pribadi, individualistik secara sekaligus dengan ihwal yang bersifat sosial mungkin sudah menjadi barang langka pada saat ini.
Dan bukankah itu merupakan salah satu dari tujuan manusia berkesenian, yaitu agar ia, sembari berusaha untuk mengenal terus-menerus dirinya sendiri, juga berusaha mengenal persoalan-persoalan yang ada di luar dirinya sebagai individu.
Banyak hal lain sesungguhnya di luar hanya persoalan kerinduan, pengharapan akan kekasih, atau pun putus cinta, dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan Tiffany Alessandra pada sajak-sajaknya kali ini.  
Tetapi, kata-kata di dalam puisi tak sekadar menjadi alat komunikasi. Kata dalam puisi lebih berperan sebagai alat ekspresi, atau simbolisasi. Banyak sekali gebalau perasaan yang hadir dalam diri kita, dan melalui kata-kata lah, gebalau perasaan itu harus kita ’ungkapkan’.
Puisi adalah tindak ’mengungkapkan’. Mengungkapkan perasaan, perenungan buah dari pergaulah hidup yang intens, dan lain sebagainya. Karena tidak semua perasaan atau perenungan dapat dikomunikasikan secara langsung, maka puisi diperlukan.
Atau bila gebalau perasaan dan perenungan itu sedemikian abstrak dan ’gaib’-nya untuk dikomunikasikan, maka puisi diperlukan untuk mengungkapkannya. Jadi, puisi berperan sebagai alat ungkap tak langsung atau pengungkap hal-hal yang begitu halus untuk kita rengkuh.
Puisi adalah media untuk mengomunikasikan pengalaman puitik. Pengalaman puitik adalah pengalaman yang intens (pekat, kental, menubi) tentang sesuatu. Dalam hidup sehari-hari kita kerap mengalami pengalaman puitik ini. Tapi, karena kepekaan ’sastrawi’ kurang maka pengalaman yang amat berharga itu lewat begitu saja.
Tetapi, puisi yang baik haruslah puisi yang mampu mengomunikasikan pengalaman puitik tersebut dengan jernih, bening. Ada proses rasionalisasi di situ. Karena pada saat kita terkena pada sebentuk momen puitik—kita seperti dibanjiri oleh pesona. Kita seperti masuk ke dalam kekuatan yang samar, murni, asli, tapi asing.
Pada saat itu, kesadaran kognitif kita berhenti. Di situ hanya ada emosi, aspek afektif. Maka melalui puisilah, pengalaman emosional itu kita kognitifkan. Tentunya dengan tetap menyisakan sisi emosi dari pengalaman itu. Selain ’kerumitan’, akibat lain yang dapat tercipta dari tiadanya proses selektif rasionalisasi adalah ’kekenesan’, puisi yang bertabur klise.
    Klise adalah ungkapan-ungkapan atau cara mengungkapkan sesuatu yang sejak dahulu sudah menjadi umum dan banyak dikenal. Karena itu ungkapan-ungkapan yang bersifat klise menjadi kurang segar, karena tak mengandung kebaruan. Daya kejutnya pun menjadi kurang, karena bukankah kita jarang terkejut terhadap hal-hal yang sudah amat biasa dikenal.
Pada beberapa larik dalam sajak Tiffany Alessandra dapat tertemui klise-klise ini, seperti ungkapan—menggapai apa yang selama ini tertunda (Biru), membawa sejuta kesejukan/dunia yang penuh warna/rasa yang tercipta/aku berharap kalau aku dapat berlalu dan mampu lupakan mimpi itu/berharap kau cepat berlalu selamanya (Datang dan Pergi), tangisan itu biar berlalu/berharap tak satu tetes air mata mengalir lagi dari pelupuk mata ini/ kututup semua lembaran lama/untuk akhirnya kubuka lembaran baru/sebuah untaian kata yang sederhana (Hadiah Tahun Baru), dan lain sebagainya.
Untuk selanjutnya, akan lebih baik bagi Tiffany untuk belajar lagi mengungkapkan sesuatu ke dalam puisi melalui bahasa yang penuh citra, metafora. Bukankah puisi berusaha untuk mengungkapkan sesuatu secara tak langsung untuk mengatakan banyak hal dengan kata atau kalimat sehemat mungkin.
Contoh dari gaya bahasa yang mampu digunakan dengan baik oleh Tiffany adalah pada larik air laut menggulum ombak (Biru). Pada larik itu air laut diberi perlakuan seakan-akan mahluk hidup, sehingga mampu menggulum seperti manusia. Sayang gaya bahasa semacam itu tak banyak diciptakan oleh Tiffany.
Sapardi Djoko Damono mengatakan, ”kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Kata-kata yang berserakan di sekeliling kita dengan artinya yang ’umum’ harus menyesuaikan diri dengan pengalaman puitik kita yang ’khusus’. Pengabdian total terhadap kata-kata yang sudah ada, tanpa usaha menundukkannya hanya akan menghasilkan puisi-puisi yang mentah dan membosankan.”
Lebih lanjut Sapardi Djoko Damono berujar, ”Andaikata yang utama dalam puisi adalah ide, dan bukan kata-kata, maka saya yakin bahwa setiap cerdik pandai yang memiliki ide yang bagus-bagus akan dengan mudah menulis puisi, dan selalu berhasil.” Ha ha ha ha…jadi, bermain-mainlah dengan kata-kata, maka engkau akan mampu menciptakan puisi yang indah. Sesederhana itu? Ya!, tetapi ada juga saran lainnya: puisi yang baik adalah puisi yang mau berbagi pengalaman dengan pembacanya. Sebuah puisi yang memberikan kesempatan kepada pembaca untuk ”melihat bersama, mendengar bersama, mencium bersama, bergerak bersama, atau merenung bersama.”
Ujar Goenawan Mohamad, ”puisi yang terbagus tidak memberikan petunjuk. Puisi yang terbagus hanya menghidupkan potensi yang baik dalam diri seseorang, pada saat ia tersentuh membacanya: potensi untuk bisa merasakan kesuraman sel yang pengap, atau sunyinya malam setelah seorang anak menghilang tiba-tiba.”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: